Senin, 08 Juni 2015

Analisis Behavioral B.F Skinner

A.    Sejarah kehidupan Skinner

       Burrhus Frederic Skinner lahir 20 Maret 1904 di susquehana, Pennsylvania, sulung dari pasangan William Skinner dan Grace Mange Burrhus Skinner. Ayahnya seorang pengacara dan politisi berpengaruh, sedangkan ibunya tinggal di rumah mengasuh kedua anak mereka. Skinner tumbuh besar di keluarga kelas atas yang nyaman dan bahagia, dimana orangtuanya mempraktekan nilai-nilai kesatabilan, kerendahan hati, kejujuran, dan kerja keras. Keluarga besar Skinner adalah penganut Kristen Presbiterian namun, Freud ( dia hampir tidak pernah dipanggil Burrhus atau B.F. ) mulai kehilangan imanya pada masa SMA, dan sejak saat itu tidak pernah lagi mempraktikan satu agamapun.
       Ketika masih kanak-kanak, Skinner cenderung menyukai music dan sastra. Sejak usia dini, dia sangat tertarik untuk menjadi penulis professional, sebuah tujuan yang kemudian dicapainya setelah sukses besar buku keduanya, walden two, ketika usianya 40 tahunan.
Meskipun tidak pernah kuliah S-1 psikolog namun, Harvard menerimanya di pascasarjana psikologi mereka. Setelah menyelesaikan Ph.D. Pada 1936, Skinner menerima tawaran kerja sama dari National Research Council untuk melanjutkan riset laboratoriumnya di Harvard. Setelah yakin dengan identitas dirinya sebagai seorang behavioris, Skinner sekarang mulai menyusun rencana kerja untuk dirinya sendiri, menetapkan tujuan hidup yang akan dicapainya 30 tahun mendatang. Rencana ini juga mengingatkan dirinya untuk mengarahkan langkahnya lebih dekat lagi kepada metodologi behavioristik dan bukan hanya “ terjebak dengan fisiologi system saraf pusat “ ( Skinner, 1979, hlm. 115 ). Pada 1960, dia mencapai fase-fase terpenting dari rencana ini.
       Di musim semi 1933, Harvard membentuk Society of Follows, sebuah program yang dirancang untuk mempromosikan pemikiran-pemikiran kreatif di antara intelektual muda lulusan universitas tersebut. Skinner terpilih sebagai Rekaman Yunior dan menghabiskan waktu tiga tahun ke depan melakukan lebih banyak riset laboratorium.
       Pada  1936, Skinner memberanikan diri untuk melamar kerja sebagai pengajar dan periset di University of Minnesota, di tempat itu pula dia tinggal selama Sembilan tahun. Dia menikahi Yvonne Blue  yang dipacarinya tidak terlalu lama. Pasangan muda Skinner ini memiliki dua putri, yaitu Julie yang lahir tahun 1938, dan Deborah ( Debbie ) yang lahir tahun 1994. Selama tahun-tahun di Minnesota, Skinner  menerbitkan buku pertamanya “ The Behavior of Organisms  ( 1938 ), dan setelah itu dia menjadi terlibat dengan dua percobaan paling menarik, yaitu merpati penuntun misil dan boks hangat bagi bayi yang baru lahir yang dipersiapkan untuk putrinya, Debbie. Hasil kedua percobaan ini ternyata gagal dan mengecewakan, emosi yang kemudian membawanya pada krisis identitas.
       Pada tahun 1948, skinner kembali ke Harvard, mengajar di College of Education. Pada 1964, di usia 60 tahun, dia pensiun dari jajaran staf pengajar namun tetap mengisi tugas mengajar di fakultas. Akhirnya dia pensiun sebagai profesor psikologi di tahun 1974, namun tetap menjadi profesor emeritus dengan sedikit perubahan dalam kondisi-kondisi bekerjanya. Skinner menulis beberapa buku penting mengenai perilaku manusia yang membantunya meraih status psikolog Amerika paling terkenal. Setelah Beyond Freedom and Destiny (1971), buku lainya yang terbit adalah About Behaviorism ( 1974 ), Reflection of Behaviorsm and Society ( 1978 ), dan Upon Furter Reflectian ( 1987 ). Selama periode ini dia juga menulis tiga jilid autobiografinya, Particulars of My Life ( 1976 ), The Sheping of a Behaviorist ( 1979 ), dan A Matter of Consequences ( 1983 ). Pada 18 Agustus 1990 Skinner meninggal akibat leukimia.

B.     Prinsip-prinsip teori Skinner
       Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan) yaitu sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai  berikut:
1. Belajar itu adalah tingkah laku.
2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan. 3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku
C.    Behaviorisme Ilmiah

       Behaviorisme ilmiah berkeyakinan kalau perilaku dapat dipelajari dengan baik tanpa harus mengacu pada konsep kebutuhan, insitng ataupun motif. Para ilmuan bisa saja menerima dengan mudah gagasan bahwa angin, batu, bahkan burung dapat dipelajari tanpa mengacu motif internalnya, namun kebanyakan teoretisi kepribadian mengasumsikan kalau manusia dimotivasikan oleh dorongan-dorongan internal dan bahwa memahami dorongan-dorongan itu sangat esensial.
Skinner tidak setuju, kenapa kita harus merumuskan hipotesis tentang fungsi kejiwaan internal? Manusia tidak makan karena merasa lapar. Rasa lapar adalah kondisi internal yang tidak bisa langsung diamati. Jika kekurangan makanan meningkatkan keinginan untuk makan, maka kita dapat menyingkirkan makanan lebih dulu untuk memprediksi dan mengontrol perilaku makannya. Makanan yang disingkirkan dan aktivitas makan adalah peristiwa fisik yang bisa diamati dengan jelas karena itu berada di wilayah ilmu. Ilmuan yang mengatakan bahwa manusia makan karena merasa lapar sebenarnya sedang berasumsi tentang kondisi mental yang tidak di perlukan dan tidak bias diamati antara fakta fisik tiadanya makanan dan fakta fisik aktivitas makan.

D.    Pengondisian
       Skinner (1953) menyebutkan dua jenis pengondisian: klasik dan operan. Dalam pengondisian klasik (yang disebut Skinner pengondisian responden), sebuah respons diharapkan muncul dari organisme lewat satu stimulus spesifik yang sudah diketahui. Sedangkan dalam pengondisian opera (disebut juga pengondisian Skinnerian), sebuah perilaku yang diharapkan muncul setelah mendapat penguatan.
Perbedaan utama antara pengondisian klasik dan operan adalah: dalam pengondisian klasik, perilaku dimunculkan dari organisme, sedangkan dalam pengondisian operan, prilaku dipancarkan. Respons yang dimunculkan ditarik keluar dari dalam diri organisme, sedangkan yang dipancarkan adalah respons yang muncul begitu saja. Skinner lebih suka respons yang di pancarkan karena respons yang dipancarkan merupakan respons yang tidak pernah ada sebelumnya dalam diri organisme selain hanya muncul keluar karena sejarah pengetahuan organismik terhadap individu atau sejarah evolusi spesies itu sendiri.
                                   
Pengondisian Klasik
Dalam pengondisian klasik (classical conditioning) stimulus netral (yang
dikondisikan) dipasangkan dengan stimulus yang dikondisikan – persisnya stimulus sebelum pengondisian – beberapa kali hingga dia sanggup mengeluarkan seperti respons yang tidak dikondisikan sebelumnya. Contoh paling sederhana adalah tindakan refleks. Cahaya yang disinarkan ke mata menstimulasi pupil untuk berkontraksi dan makanan yang diletakkan dilidah akan merangsang keluarnya klenjar lidah. Dalam tindakan refleks, respons yang muncul tidak pernah dipelajari, dikehendaki, dan sifatnya umum bukan hanya pada satu spesies namu juga pada semua spesies. Namun pengondisian klasik tidak hanya terbatas pada refleks sederhana. Dia bisa juga memunculkan pembelajaran manusia yang lebih kompleks, seperti fobia, rasa takut, dan rasa cemas. Sebuah pengondisian klasik terhadap manusia pertama kali disampaikan oleh John Watson dan Royalie Rayner pada 1920 terhadap anak laki-laki Albert B, yanag biasanya di sebut Albert kecil.

Pengondisian Operan
Meskipun pengondisian klasik berguna bagi beberapa pembelajaran manusia, Skinner yakin jika kebanyakan perilaku manusia dipelajari lewat pengondisian operan(operant conditioning). Kunci bagi pengondisian operan adalah penguatan segera pada respons . organisme pertama-tama melakukan sesuatu dulu lalu kemudian diperkuat lingkungan. Penguatan, pada gilirannya, meningkatkan kemungkinan bahwa perilaku yang sama akan muncul kembali. Pengondisian ini disebut pengondisian operan karena organisme beroperasi dalam lingkungan untuk menghasilkan satu efek khusus. Pengondisian operan mengubah frekuensi sebuah respons atau kemungkinan bagi suatu respons muncul. Penguatan tidak menyebabkan perilaku namun, dia mempersiapkan suasana bagi pengulangannya.

E.     Organisme Manusia
       Menurut skinner (1987a, hlm,55) perilaku manusia (kepribadiannya) dibentuk oleh tiga daya : (1) seleksi alam, (2) praktik-praktik budaya, dan (3) sejarah penguatan individu. Namun begitu, pada akhirnya “ini semua hanya persoalan seleksi alam, karena pengkondisian operan merupakan proses yang terus berevolusi, di mana praktik-praktik budaya kita adalah wadah utama pengejawantahannya”.
Seleksi Alam              
Kepribadian manusia adalah produk dari sejarah evolusi yang panjang. Sebagai individu, perilaku kita ditentukan oleh komposisi genetic dan khususnya oleh sejarah pribadi penguatan-penguatan kita. Namun sebagai spesies, kita dibentuk oleh dorongan untuk bertahan hidup. Seleksi alam memainkan peran penting dalam kepribadian manusia (Skinner, 1974, 1987a, 1990a).
Kebutuhan kuat terhadap penguatan dan kebutuhan kuat terhadap interaksi untuk menjaga kelangsungan hidup dan sejumlah perilaku yang secara individual bersifat menguatkan juga memberikan kontribusi bagi kelangsungan hidup spesies. Sebagai contoh, perilaku seksual umumnya bersifat menguatkan bagi individu namun, juga memiliki nilai seleksi alamiah karena individu-individu yang paling kuat terangsang oleh stimulasi seksual juga merupakan individu yang menghasilkan keturunan dengan pola kemampuan perilaku yang sama.
Meskipun seleksi alam membantu pembentukan sejumlah perilaku manusia, mungkin dia bertanggung jawab hanya bagi sejumlah kecil tindakannya. Skinner (1989a, hlm.18) menyatakan bahwa kebutuhan kuat terhadap penguatan, khususnya yang sudah membentuk budaya manusia, bertanggung jawab bagi kebanyakan perilaku manusia.
Evolusi budaya
Seleksi bertanggung jawab bagi praktik-praktik budaya orang-orang yang sudah bertahan, sama seperti seleksi memainkan peran kunci dalam sejarah evolusi manusia dan kebutuhan kuat terhadap penguatan. “manusia tidak mengamati praktik-praktik khusus agar kalompoknya bisa bertahan hidup, mereka mengamatinya karena kelompok menyuruh anggota-anggotanya bertindak demikian agar bisa bertahan hidup dan meneruskan keturunannya (Skinner, 1987a, hlm.57). dengan kata lain, manusia tidak membuat keputusan yang kooperatif untuk melakukan hal terbaik bagi masyarakat namun, masyarakat-masyarakat yang anggota-anggotanya bersikap kooperatiflah yang cenderung bias bertahan hidup.
Sisa-sisa kebudayaan, seperti bekas-bekas seleksi alam, tidak semuanya adaptif. Contohnya, pembagian kerja yang berkembang dari Revolusi Industri sudah banyak membantu masyarakat menghasilkan lebih banyak barang namun, dia sudah mengarahkan manusia kepada kerja yang tidak lagi memperoleh penguatan langsung. Contoh lain adalah perang, yang di dunia pra-industri menguntungkan kelompok-kelompok masyarakat tertentu, tetapi sekarang sudah berubah menjadi ancaman bagi keberadaan masyarakat.

F.     Kepribadian Yang Tidak Sehat
       Sayangnya, teknik-teknik kontrol sosial dan kontrol diri kadang kala menghasilkan efek-efek merusak, yang pada gilirannya memunculkan perilaku tidak tepat dan perkembangan pribadi tidak sehat.
Strategi-Strategi Perlawanan
Ketika kontrol sosial terlalu berlebihan, manusia dapat menggunakan tiga strategi dasar untuk menghadapinya – melarikan diri, memberontak atau menggunakan perlawanan pasif (Skinner, 1953). Dalam strategi melarikan diri, manusia menarik diri secara fisik atau psikologis dari menjadi agen pengontrol. Manusia yang memberontak ketika melawan kontrol masyarakat bersikap lebih aktif dan membalas serangan semua agen pengontrol. Manusia yang melawan kontrol dengan perlawanan pasif, lebih rapuh ketimbang mereka yang memberontak dengan aktif, dan lebih mudah terluka terhadap para pengontrolnya ketimbang mereka yang melarikan diri.
Perilaku-Perilaku yang Tidak Tepat
Perilaku yang tidak tepat meliputi perilaku terlalu bersemangat yang tidak sesuai dengan situasi yang dihadapi, tetapi mungkin cocok jika dilihat berdasarkan sejarah masa lalunya, perilaku yang terlalu kaku, digunakan untuk menghindari stimuli yang tidak diinginkan terkait penghukuman dan akhirnya perilaku yang memblokir realitas, yaitu mengabaikan begitu saja stimuli yang tidak diinginkan.

Perilaku lainnya yang tidak tepat adalah menghukum diri, menggunakan orang lain untuk menghukum dirinya, atau mengubah lingkungan agar mereka bisa dihukum.